h36fBKl6IGAl600aLh3XwESUlCJ3z4hPI1YGP78M
Bookmark

Kasih Sayang - BRAHMAVIHARA (DHARMA KELUHURAN)

Kasih Sayang [Karuna] - Dalam keyakinan umat Buddhis, cinta kasih disebut juga metta. Cinta kasih yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah cinta kasih yang universal. Berbeda dengan cinta yang Anda rasakan saat anda menyukai seseorang lawan jenis.

Cinta Anda pada lawan jenis memiliki sifat kemelekatan atau keinginan untuk memiliki secara kekal, terpengaruh oleh emosi-emosi keduniawian, dan ada rasa pamrih, serta nafsu. 

Sedangkan cinta kasih yang universal adalah cinta kasih untuk semua makhluk, seperti sesama manusia, pada hewan, serangga, tumbuhan, orang tua, saudara, kawan, bahkan musuh atau makhluk iblis sekalipun.

Kasih Sayang merupakan suatu perasaan kasihan dimana sampai tergetar hati seseorang apabila pihak lain terkena penderitaan sehingga timbul niat untuk membantu menghilangkan atau meringankan penderitaan tersebut.

Salah satu contoh yang telah diberikan sebelumnya yaitu pengorbanan Bodhisattva yang mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan harimau betina dan anak-anaknya adalah merupakan sifat Kasih Sayang seorang Bodhisattva yang senantiasa berkehendak meringankan penderitaan orang lain.

Pada jaman seperti saat ini tentunya hal demikian dapat juga kita lakukan dengan melakukan donor darah secara teratur dimana akan disumbangkan kemudian untuk pihak-pihak yang sangat membutuhkannya karena sedang menderita kekurangan darah.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa sifat Kasih Sayang ini merupakan satu-satunya hal yang perlu dikembangkan oleh seorang Bodhisattva dimana akan menuju kemahiran dalam semua prinsip dan sifat keBuddhaan.
Kasih Sayang - BRAHMAVIHARA (DHARMA KELUHURAN)
Seseorang yang telah diliputi sifat Kasih Sayang yang sejati , tidak akan lagi mementingkan diri sendiri tetapi senantiasa mencari kesempatan untuk membantu pihak lain tanpa mengharapkan suatu balas jasa ataupun ucapan terima kasih.

Bilamana seseorang yang telah melatih diri dengan selalu bersikap tanpa perbedaan terhadap orang lain sebagaimana terhadap dirinya sendiri, maka dia telah menunjukkan sifat Kasih Sayang yang sempurna.

Sang Buddha juga telah menunjukkan sifat Kasih Sayang ini terhadap pelacur Ambapali dan pembunuh Angulimala yang mana setelah disadarkan olehNya kemudian mereka berdua menjadi pengikut Beliau yang setia dan mencapai pencerahan.

Walaupun adakalanya terdapat orang yang secara kentara menjadikan dirinya sendiri ataupun orang lain merana, tapi tetap saja pada akhirnya dia akan merasakan penderitaan itu sendiri. Seringkali karena kebiasaan dan kebodohan batinnya sendiri sehingga dia tidak bisa menolong dirinya sendiri.

Seekor ular berbisa tetap akan mengeluarkan bisanya kepada setiap orang yang mendekatinya dengan tujuan untuk melindungi dirinya sendiri tanpa menyadari apakah orang itu akan menganggunya ataupun tidak. Hal ini karena kebiasaan dan kebodohan ular itu sendiri.

Manusia yang dibekali logika yang sempurna, tidaklah perlu bertindak demikian, yaitu dengan bersikap egois dan mencelakai orang lain. Kita dapat mengetahui dari sejarah hidup para Guru Agung terdahulu ataupun masa kini yang mengabdikan hidup Mereka sepenuhnya untuk kebahagiaan orang lain, senantiasa mencurahkan sifat Kasih Sayang kepada setiap orang sebagai sahabat lama, sebagaimana Y.M. Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso mengatakan, "Saya selalu berusaha untuk memperlakukan siapa saja yang saya jumpai sebagai seorang sahabat lama. Hal ini memberi saya suatu kebahagiaan yang sejati. Ini adalah cara untuk mempraktekkan Kasih Sayang." 

Seperti sifat Cinta Kasih, demikian juga sifat Kasih Sayang haruslah kita pancarkan tanpa batas kepada seluruh makhluk yang menderita dan tak berdaya termasuk hewan yang bisu dan telur yang dibuahi. Berpesta pora dengan daging hewan yang dibunuh atau yang menyebabkan mereka untuk dibunuh demi kepuasan makan semata-mata bukanlah merupakan Kasih Sayang manusia.
Dijelaskan dalam Mettā Sutta, Khuddakapāñha, Khuddaka Nikāya: “Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.”
Menyebarkan kerusuhan sehingga terjadi tindak kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa adalah hal yang tidak manusiawi dan kejam. Perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia hanya karena perbedaan suku, bangsa, ras dan agama sehingga menghancurkan berjuta-juta makhluk hidup, tempat tinggal, ladang pertanian dan lahan perekonomian suatu negara yang menyebabkan penderitaan jutaan anak-anak dan orang tua yang kehilangan tempat berteduh dan harus mengungsi tanpa tujuan, adalah tanpa peri kemanusiaan dan sama sekali tanpa Kasih Sayang.

Kasih Sayang adalah dengan merangkul semua makhluk yang tertimpa kemalangan, sedangkan Cinta Kasih mencakup semua makhluk hidup yang berbahagia ataupun berduka.

Salah satu cara yang dapat melengkapi latihan Cinta Kasih dan Kasih Sayang ini adalah dengan senantiasa berusaha mengurangi penderitaan makhluk hidup baik langsung ataupun tidak langsung yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari kita baik dari pikiran, ucapan, maupun perbuatan kita.

Perbuatan disini termasuk cara makan kita yaitu dengan berusaha semaksimal mungkin untuk mulai mengurangi makanan hewani dengan memakan lebih banyak makanan non-hewani atau nabati (vegetarian).

Penjelasan lebih lanjut mengenai cara vegetarian dan manfaatnya telah diuraikan pada bab terdahulu. Sang Buddha senantiasa mencurahkan Kasih Sayang yang tidak terbatas kepada seluruh dunia, demikian juga para siswaNya dimana ketika mereka hidup di dunia ini, mereka selalu berbuat untuk kebaikan dan kebahagiaan seluruh makhluk, yang timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia.

Sang Buddha bersabda, "Ketika Sang Tathagata atau para siswaNya hidup di dunia, mereka berbuat untuk kebahagiaan banyak makhuk, timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia.
Dan siapakah Sang Tathagata itu? Mengenai hal ini, seorang Tathagata muncul di dunia, Buddha Yang Maha Mulia, Buddha Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan perbuatanNya, sempurna menempuh jalan (ke Nibbana), pengenal segenap alam, pembimbing umat manusia yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan.
Dan siapakah siswa Sang Tathagata itu? Dia adalah seorang yang mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah pula di akhirnya, baik dalam kata-kata maupun maknanya. Dia membuat kehidupan suci menjadi jelas, sempurna, dan tak ternoda.
Inilah Sang Tathagata dan para siswaNya, dan ketika mereka hidup di dunia, mereka berbuat untuk kebaikan banyak makhluk, untuk kebahagiaan banyak makhluk, timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia." (Anguttara Nikaya II, 146)

Post a Comment

Post a Comment